Selasa, 12 Februari 2008
Ditulis oleh Melinda
Teknologi produksi bahan tambalan saat ini berkembang cukup pesat dibandingkan 50 tahun yang lampau. Hal ini membuat para dokter gigi mempunyai banyak banyak pilihan untuk merestorasi gigi berlubang, rusak, patah bahkan yang hilang sekalipun. Para periset terus mengembangkan bahan-bahan, seperti porselen, polimer agar makin mendekati penampakan gigi asli. Termasuk diantaranya dengan pemanfaatan teknologi nano.
Bahan-bahan baru ini tidak menggantikan bahan-bahan restorasi yang sudah ada selama ini, seperti emas, alloy berbahan dasar logam dan amalgam. Hal ini disebabkan oleh kekuatan dan keawetan bahan-bahan tambalan tersebut masih diperlukan dalam kondisi tertentu, misalnya untuk menambal gigi belakang yang banyak menanggung beban kunyah.
Kondisi mulut dan kesehatan umum pasien mempengaruhi jenis bahan tambalan yang dipilih, dari segi penampilan, keawetan dan harga. Selain itu di mana dan bagaimana bahan tambalan akan diletakkan, waktu dan frekuensi kunjungan yang diperlukan untuk memepersiapkan serta menambalkan gigi juga harus dipertimbangkan dalam memilih jenis bahan tambalan.
Berikut ini paparan mengenai keunggulan dan keburukan berbagai jenis bahan yang umumnya digunakan untuk menambal lubang gigi. Keputusan mengenai bahan mana yang dipilih sebaiknya didiskusikan dulu dengan dokter gigi sebelumnya.
Macam-macam restorasi gigi
Ada 2 macam restorasi gigi, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung artinya bahan tambalan diletakkan segera ke lubang gigi yang sudah dibersihkan dalam satu kunjungan. Termasuk di dalamnya adalah amalgam, ionomer kaca, resin ionomer, dan resin komposit. Secara tidak langsung artinya diperlukan dua atau lebih kunjungan. Pada kunjungan pertama, dokter gigi akan mempersiapkan gigi yang akan direstorasi dan membuat cetakan gigi yang akan direstorasi. Pada kunjungan berikutnya, restorasi yang sudah jadi akan direkatkan pada lubang yang sudah disiapkan.
Tambalan Amalgam
Sampai saat ini amalgam merupakan bahan tambalan yang paling banyak dikembangkan dan diuji dibandingkan bahan tambalan lain. Bahan ini awat, mudah digunakan, tidak mudah pecah dan relaitf murah. Karena itulah amalgam hingga saat ini masih digunakan.
Amalgam merupakan campulan beberapa logam, yaitu air raksa, perak, seng, tembaga dan beberapa logam lainnya. Banyak orang mencurigai amalgam sebagai bahan tambalan yang berbahaya karena kandungan air raksanya. Sesungguhnya, air raksa dalam amalgam terikat dalam ikatan yang stabil dengan logam lainnya sehingga aman untuk dipakai.
Hal ini diperkuat oleh pengakuan Perstauan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, bahwa amalgam adalah bahan tambalan yang aman dan baik. Di tingkat duniapun, bahan ini direkomendasikan oleh WHO. Di Amerika, Food and Drug Administration (FDA) juga merekomendasikannya.
Amalgam sangat bermanfaat untuk merestorasi gigi geraham karena kemampuannya menahan beban kunyah yang besar. Amalgam mudah ditambalkan ke lubang yang sulit dikeringkan, seperti lubang di bawah tepi gusi. Selain itu, jarang muncul reaksi alergi terhadap bahan amalgam.
Segi buruk amalgam adalah warnanya yang keperakan sehingga secara estetik tidak menarik, apalagi kalau digunakan di gigi depan. Kadangkala juga muncul sedikit rasa sensitif terhadap panas atau dingin setelah gigi ditambal amalgam. Selain 2 keburukan di atas, untuk menambalkan amalgam, dokter gigi harus mengambil struktur gigi lebih banyak dibandingkan untuk bahan tambalan lainnya.
Tambalan komposit
Tambalan komposit merupakan campuran bahan kuarsa dengan resin yang menghasilkan tambalan yang berwarna seperti gigi, bahkan dapat meniru warna transparan email. Ada salah kaprah yang berkembang di masyarakat, bahwa tambalan komposit adalah tambalan LASER. Yang benar adalah sinar halogen yang berwarna biru digunakan untuk membantu proses pengerasan komposit. Tambalan komposit yang kecil ataud sedang dapat bertahan terhadap tekanan kunyah. Perlekatan tambalan komposit pada dinding lubang gigi sangat baik. Selain itu tidak banyak struktur gigi yang harus diambil untuk menambalkan komposit pada lubang gigi.
Tambalan komposit relatif berharga lebih mahal dibanding bahan amalgam, bergantung pada besar-kecilnya tambalan serta tingkat kesulitan dalam melakukan penambalan. Diperlukan waktu yang lebih lama untuk menambalkan komposit dibanding menambalkan amalgam. Untuk dapat menambalkan komposit, lubang harus bersih dan kering. Karena itu sulit untuk menambal lubang yang berada di bawah tepi gusi. Selain itu tambalan komposit akan akan berubah warna sejalan dengan waktu.
Tambalan Ionomer kaca dan ionomer resin
Ionomer kaca merupakan bahan tambalan yang berwarna seperti gigi, terbuat dari campuran bubuk kaca dan asam akrilik. Bahan ini dapat digunakan untuk menambal lubang, khususnya pada permukaan gigi. Ionomer kaca melepaskan sejumlah kecil fluoride yang bermanfaat bagi pasien yang berisiko tinggi terhadap karies.
Sedikit struktur gigi yang diambil untuk menyiapkan gigi yang akan ditambal ionomer kaca. Karena mudah pecah, bahan ini tidak dapat digunakan untuk menambal gigi belakang yang digunakan untuk mengunyah.
Ionomer resin terbuat dari bubuk kaca dan asam akrilik dan resin akrilik. Digunakan untuk menambal lubang yang sangat kecil pada bagian gigi yang tidak menanggung beban kunyah, karena mudah patah.
Ionomer kaca dan ionomer resin berwarna seperti warna gigi tapi tidak dapat menyerupai warna email yang transparan. Kedua bahan ini jarang menimbulkan reaksi alergi.
Bahan restorasi tidak langsung (2 atau lebih kunjungan)
Dalam beberapa kasus, untuk mendapatkan hasil restorasi gigi yang terbaik, digunakan bahan logam tuang yang dikerjakan di laboratorium. Bahan restorasi seperti ini memerlukan 2 atau lebih kunjungan, bentuknya bisa berupa crown (mahkota tiruan), jembatan, inlay atau onlay. Crown meliputi seluruh permukaan gigi yang tampak di rongga mulut, sedangkan inlay bentuknya lebih kecil dan melekat mengikuti bentuk gigi. Onlay mirip dengan inlay, tapi lebih besar, meliputi sebagian atau seluruh permukaan kunyah gigi. Sedangkan yang di maksud dengan jembatan di sini adalah restorasi yang menggantikan satu atau lebih gigi yang sudah hilang, serta meliputi gigi-gigi di sebelahnya yang digunakan sebagai penyangga. Gambar di samping menjelaskan pengertian jembatan. Restorasi terdiri dari 3 unit, yaitu 2 unit crown di kedua ujung untuk meliputi gigi penyanggah dan unit yang ditengah menggantikan gigi yang sudah hilang.
Harga yang harus dibayar untuk restorasi jenis ini umumnya lebih mahal, disebabkan jumlah dan lama kunjungan yang diperlukan serta biaya tambahan untuk mengerjakan restorasi di laboratorium gigi.
Bahan yang digunakan untuk restorasi ini selain logam adalah porselen, logam berlapis porselen, alloy emas dan alloy logam lainnya.
Porselen
Porselen digunakan sebagai inlay, onlay, crown atau veneer, Veneer adalah lapisan porselan sangat tipis yang ditempatkan pada gigi menggantikan email. Biasanya digunakan untuk memperbaiki penampilan gigi yang berwarna kurang baik. Bahan porselen sangat baik secara estetika karena warnanya yang sangat mirip dengan warna gigi. Pemasangan restorasi porselen beresiko pecah bila diletakkan dengan tekanan atau bila terbentur. Kekuatannya tergantung pada ketebalan porselen dan kemampuannya melekat pada gigi. Setelah melekat pada gigi, porselen sangat kuat, tapi akan mengikis gigi antagonisnya bila permukaannya kasar.
Logam berlapis porselen
Dibandingkan dengan porselen, restorasi ini sangat kuat karena kombinasinya dengan kekuatan logam, karena itu sering digunakan untuk membuat crown atau jembatan.
Banyak struktur gigi yang harus diambil untuk memberi tempat bagi restorasi jenis ini. Kadang-kadang muncul rasa tidak nyaman bila terkena rangsang panas atau dingin di awal penggunaan dan beberapa orang menunjukkan reaksi alergi terhadap beberapa jenis logam yang digunakan dalam restorasi.
Alloy emas
Alloy emas terdiri dari emas, tembaga dan logam lain, terutama digunakan untuk crown, inlay, onlay dan jembatan. Alloy ini tahan karat. Kekuatannya yang besar sehingga sulit pecah maupun terkikis, memungkinkan dokter gigi untuk mengambil sesedikit mungkin struktur gigi yang akan direstorasi. Alloy ini tidak merusak gigi antagonis dan tidak pernah memunculkan reaksi alergi. Namun, warnanya tidak bagus karena tidak seperti warna gigi.
Alloy logam
Alloy logam tampak seperti perak, digunakan sebagai crown, jembatan atau rangka gigi palsu. Bahan ini tahan karat, sangat kuat dan tidak mudah patah atau terkikis. Beberapa orang menunjukkan reaksi alergi terhadap bahan ini, dan merasa tidak nyaman terhadap panas dan dingin di awal penggunaan. Warnanya pun tidak baik karena tidak seperti warna gigi.
Crown, inlay atau onlay dari komposit
Restorasi yang terbuat dari komposit ini dibuat di laboratorium gigi. Bahan yang digunakan sama dengan yang digunakan sebagai bahan tambalan. Keunggulannya dibanding porselen adalah tidak menyebabkan terkikisnya gigi lawan. Selain itu restorasi ini mudah pecah dan berubah warna.
Senin, 09 Agustus 2010
Katanya, kalau sedang demam berdarah tidak boleh menyikat gigi
Jumat, 23 Mei 2008
5 hari di tidur di rumah sakit gara-gara demam berdarah bagiku menjadi pengalaman yang menarik, karena di sana aku mendengar satu lagi mitos tentang pemeliharaan gigi yang disebarkan oleh tenaga paramedis. Saat aku mendengar mitos itu diucapkan, trombositku ada pada level 50an ribu. Salah seorang perawat jaga melarangku menyikat gigi, karena katanya akan menyebabkan perdarahan gusi. Ini adalah mitos yang salah dan dapat dijelaskan mengapa salah.
Gusi yang sehat dalam rongga mulut terlihat berwarna merah muda. Kalau dikeringkan, permukaannya terlihat seperti kulit jeruk, berbintik-bintik. Dan yang pasti, tidak mudah berdarah, apalagi hanya karena bulu sikat gigi. Proses menyikat gigi memberikan efek pemijatan pada gusi, sehingga peredaran darah pada gusi menjadi lancar dan tentu saja akibatnya gusi terpelihara kesehatannya. Selain memijat gusi, penyikatan gigi tentu saja akan mengangkat kotoran, sisa-sisa makanan dan plak yang melekat pada gigi. Gigi dan gusi yang bersih tentunya tidak memungkinkan bakteri penyebab gigi berlubang dan radang gusi hidup.
Kalau gusi dalam keadaan sehat, meskipun menderita demam berdarah, penyikatan gigi tidak akan menyebabkan perdarahan di rongga mulut. Justru bila tidak disikat, sisa-sisa makanan yang menempel di gusi dan gigi akan menjadi sarang yang nyaman bagi bakteri penyebab radang gusi. Akibat selanjutnya adalah gusi mudah berdarah ketika disikat, dan kemungkinan terjadi perdarahan yang sulit dihentikan.
Jadi boleh atau tidak menyikat gigi ketika demam berdarah? Tergantung, kalau gusi sehat, sikat saja. Kalau sudah penuh dengan karang gigi, turuti saja anjuran perawat.
5 hari di tidur di rumah sakit gara-gara demam berdarah bagiku menjadi pengalaman yang menarik, karena di sana aku mendengar satu lagi mitos tentang pemeliharaan gigi yang disebarkan oleh tenaga paramedis. Saat aku mendengar mitos itu diucapkan, trombositku ada pada level 50an ribu. Salah seorang perawat jaga melarangku menyikat gigi, karena katanya akan menyebabkan perdarahan gusi. Ini adalah mitos yang salah dan dapat dijelaskan mengapa salah.
Gusi yang sehat dalam rongga mulut terlihat berwarna merah muda. Kalau dikeringkan, permukaannya terlihat seperti kulit jeruk, berbintik-bintik. Dan yang pasti, tidak mudah berdarah, apalagi hanya karena bulu sikat gigi. Proses menyikat gigi memberikan efek pemijatan pada gusi, sehingga peredaran darah pada gusi menjadi lancar dan tentu saja akibatnya gusi terpelihara kesehatannya. Selain memijat gusi, penyikatan gigi tentu saja akan mengangkat kotoran, sisa-sisa makanan dan plak yang melekat pada gigi. Gigi dan gusi yang bersih tentunya tidak memungkinkan bakteri penyebab gigi berlubang dan radang gusi hidup.
Kalau gusi dalam keadaan sehat, meskipun menderita demam berdarah, penyikatan gigi tidak akan menyebabkan perdarahan di rongga mulut. Justru bila tidak disikat, sisa-sisa makanan yang menempel di gusi dan gigi akan menjadi sarang yang nyaman bagi bakteri penyebab radang gusi. Akibat selanjutnya adalah gusi mudah berdarah ketika disikat, dan kemungkinan terjadi perdarahan yang sulit dihentikan.
Jadi boleh atau tidak menyikat gigi ketika demam berdarah? Tergantung, kalau gusi sehat, sikat saja. Kalau sudah penuh dengan karang gigi, turuti saja anjuran perawat.
Si Bungsu yang sering bermasalah
Kamis, 14 Februari 2008
Ditulis oleh Melinda
Usia anda sudah mencapai lebih dari 20 tahun, namun tanpa diduga, tahu-tahu ada gigi baru yang tumbuh di belakang. Tidak usah heran. Anda tidak sendirian, banyak orang yang mengalami hal ini. Dalam keadaan normal, gigi geraham ketiga, atau yang sering disebut sebagai gigi bungsu memang baru tumbuh pada usia di atas 17 tahun. Disebut normal, artinya gigi tumbuh pada tempatnya dan dengan arah yang sama seperti gigi-gigi lainnya.
Jenis makanan yang makin lama makin mudah dicerna menyebabkan ukuran rahang manusia makin mengecil bila dibandingkan nenek moyangnya. Pada jaman purba, manusia mengkonsumsi daging mentah tanpa diolah terlebih dahulu, jadi makanan harus dikunyah dalam waktu lama supaya dapat ditelan. Proses pengunyahan yang panjang ini akan memacu pertumbuhan rahang. Makin modern manusia, jenis makananpun semakin mudah dicerna. Saat ini hampir tidak ada orang yang mengunyah makanannya sampai 32 kali seperti yang dinasehatkan orangtua jaman dulu. Tidak heran kalau rahang manusia jaman modernpun makin kecil ukurannya, sementara jumlah gigi tidak berkurang. Akibatnya, tidak cukup ruangan di dalam mulut bagi ketigapuluh dua gigi untuk tumbuh dengan normal.
Akibat yang ditimbulkan
Ruangan yang tidak cukup akan menyulitkan pertumbuhan gigi bungsu. Kalau benih gigi susu sudah ada, secara alamiah dia akan berusaha untuk tumbuh terus hingga mencapai kontak dengan gigi antagonisnya. Di sinilah masalah dimulai. Si bungsu tetap nekad memaksakan kehendaknya untuk keluar meskipun tempat tidak ada! Akibatnya tidak hanya akan menimpa gigi di sebelahnya, tapi juga seluruh rongga mulut, bahkan leher, telinga dan bagian kepala lainnya.
Ruangan yang tidak memadai ini akan menyebabkan gigi bungsu mencari tempat yang menurutnya paling pas. Pas bagi si bungsu, belum tentu pas bagi gigi lainnya. Umumnya, posisi yang paling sering diambil oleh si bungsu adalah posisi miring atau bahkan tidur ke arah gigi di depannya. Dengan posisi seperti ini, dia akan terus tumbuh dengan arah yang sama. Selama belum mencapai kontak dengan gigi antagonisnya, dia akan terus tumbuh, apapun yang menghalanginya. Tekanan yang diterima oleh gigi di sebelahnya maupun tulang di sekitarnya akan menyebabkan rasa sakit yang tidak jelas tempatnya atau sakit kepala sebelah (migren). Selain itu, kadang-kadang menimbulkan bunyi berdenging di telinga yang berkepanjangan. Tekanan terus menerus dapat juga menyebabkan "termakannya" struktur gigi di sebelahnya, atau patahnya tulang rahang.
Bila dalam posisi miringnya gigi bungsu berhasil tumbuh menembus gusi, bentuk mahkotanya yang bergerigi menyebabkan terbentuknya daerah retensi makanan yang sulit dibersihkan. Gambar di sebelah ini sangat jelas memperlihatkan celah di antara si bungsu dan gigi di depannya. Akibatnya tentu saja bau mulut, juga pembentukan karies. Bila keadaan ini dibiarkan, lama kelamaan gigi di depannya akan berlubang besar.
Kadang-kadang si bungsu mengambil posisi di luar garis gigitan, misalnya tumbuh terlalu ke arah pipi. Akibatnya pipi bagian dalam akan sering terbentur olehnya dan menjadi luka. Demikian juga kalau tumbuh ke arah lidah, tepi tajam gigi akan melukai lidah.
Mengingat banyaknya akibat yang ditimbulkan oleh pertumbuhan si bungsu, dokter gigi umumnya menganjurkan pengangkatan gigi ini. Begitu si bungsu mulai terlihat tumbuh, sebaiknya segera diperiksa apakah posisi tumbuhnya mengganggu gigi lainnya. Hal ini bisa diketahui melalui pembuatan foto X-ray. Bila miring, sebaiknya segera diangkat tanpa harus menunggu munculnya gejala-gejala seperti di atas. Makin cepat diangkat, makin mudah proses pengangkatan sehingga makin kecil juga resiko yang mengiringinya.
Proses pengangkatan
Umumnya pengangkatan si bungsu dilakukan melalui sebuah operasi kecil yang dapat dilakukan di ruang praktek dokter gigi. Hanya pada kasus-kasus tertentu, misalnya bila si bungsu tertanam sangat dalam di dalam tulang, atau masuk ke dalam ruang sinus, dilakukan di kamar operasi. Bila keempat gigi bungsu (rahang atas dan bawah kiri dan kanan) muncul bersamaan, pengangkatan keempatnya sekaligus di kamar operasi akan memperkecil resiko operasi.
Operasi dimulai dengan menyuntikkan obat bius ke daerah di sekitar si bungsu. Setelah efek pembiusan berjalan, akan dilakukan penyayatan pada gusi di sekitar si bungsu dan dilanjutkan dengan pengambilan jaringan tulang di sekitar si bungsu. Hal ini dilakukan untuk membuang penghalang di sekitar si bungsu sehingga trauma fisik selama pencabutan tidak terlalu besar. Bila si bungsu telah berhasil dikeluarkan, gusi yang terbuka akan dikembalikan ke posisi semula dan dijahit.
Akibat yang biasa muncul setelah operasi pengangkatan si bungsu ini adalah rasa sakit, bengkak, kesulitan membuka mulut hingga 2-3 hari. Kejadian-kejadian di luar itu bisa saja terjadi, misalnya perdarahan yang terus menerus, rasa kebas yang tidak hilang atau luka yang tidak bisa menutup. Tapi hal-hal tersebut jarang muncul dan biasanya ada kondisi individual yang menyebabkan hal-hal luar biasa ini terjadi.
Ditulis oleh Melinda
Usia anda sudah mencapai lebih dari 20 tahun, namun tanpa diduga, tahu-tahu ada gigi baru yang tumbuh di belakang. Tidak usah heran. Anda tidak sendirian, banyak orang yang mengalami hal ini. Dalam keadaan normal, gigi geraham ketiga, atau yang sering disebut sebagai gigi bungsu memang baru tumbuh pada usia di atas 17 tahun. Disebut normal, artinya gigi tumbuh pada tempatnya dan dengan arah yang sama seperti gigi-gigi lainnya.
Jenis makanan yang makin lama makin mudah dicerna menyebabkan ukuran rahang manusia makin mengecil bila dibandingkan nenek moyangnya. Pada jaman purba, manusia mengkonsumsi daging mentah tanpa diolah terlebih dahulu, jadi makanan harus dikunyah dalam waktu lama supaya dapat ditelan. Proses pengunyahan yang panjang ini akan memacu pertumbuhan rahang. Makin modern manusia, jenis makananpun semakin mudah dicerna. Saat ini hampir tidak ada orang yang mengunyah makanannya sampai 32 kali seperti yang dinasehatkan orangtua jaman dulu. Tidak heran kalau rahang manusia jaman modernpun makin kecil ukurannya, sementara jumlah gigi tidak berkurang. Akibatnya, tidak cukup ruangan di dalam mulut bagi ketigapuluh dua gigi untuk tumbuh dengan normal.
Akibat yang ditimbulkan
Ruangan yang tidak cukup akan menyulitkan pertumbuhan gigi bungsu. Kalau benih gigi susu sudah ada, secara alamiah dia akan berusaha untuk tumbuh terus hingga mencapai kontak dengan gigi antagonisnya. Di sinilah masalah dimulai. Si bungsu tetap nekad memaksakan kehendaknya untuk keluar meskipun tempat tidak ada! Akibatnya tidak hanya akan menimpa gigi di sebelahnya, tapi juga seluruh rongga mulut, bahkan leher, telinga dan bagian kepala lainnya.
Ruangan yang tidak memadai ini akan menyebabkan gigi bungsu mencari tempat yang menurutnya paling pas. Pas bagi si bungsu, belum tentu pas bagi gigi lainnya. Umumnya, posisi yang paling sering diambil oleh si bungsu adalah posisi miring atau bahkan tidur ke arah gigi di depannya. Dengan posisi seperti ini, dia akan terus tumbuh dengan arah yang sama. Selama belum mencapai kontak dengan gigi antagonisnya, dia akan terus tumbuh, apapun yang menghalanginya. Tekanan yang diterima oleh gigi di sebelahnya maupun tulang di sekitarnya akan menyebabkan rasa sakit yang tidak jelas tempatnya atau sakit kepala sebelah (migren). Selain itu, kadang-kadang menimbulkan bunyi berdenging di telinga yang berkepanjangan. Tekanan terus menerus dapat juga menyebabkan "termakannya" struktur gigi di sebelahnya, atau patahnya tulang rahang.
Bila dalam posisi miringnya gigi bungsu berhasil tumbuh menembus gusi, bentuk mahkotanya yang bergerigi menyebabkan terbentuknya daerah retensi makanan yang sulit dibersihkan. Gambar di sebelah ini sangat jelas memperlihatkan celah di antara si bungsu dan gigi di depannya. Akibatnya tentu saja bau mulut, juga pembentukan karies. Bila keadaan ini dibiarkan, lama kelamaan gigi di depannya akan berlubang besar.
Kadang-kadang si bungsu mengambil posisi di luar garis gigitan, misalnya tumbuh terlalu ke arah pipi. Akibatnya pipi bagian dalam akan sering terbentur olehnya dan menjadi luka. Demikian juga kalau tumbuh ke arah lidah, tepi tajam gigi akan melukai lidah.
Mengingat banyaknya akibat yang ditimbulkan oleh pertumbuhan si bungsu, dokter gigi umumnya menganjurkan pengangkatan gigi ini. Begitu si bungsu mulai terlihat tumbuh, sebaiknya segera diperiksa apakah posisi tumbuhnya mengganggu gigi lainnya. Hal ini bisa diketahui melalui pembuatan foto X-ray. Bila miring, sebaiknya segera diangkat tanpa harus menunggu munculnya gejala-gejala seperti di atas. Makin cepat diangkat, makin mudah proses pengangkatan sehingga makin kecil juga resiko yang mengiringinya.
Proses pengangkatan
Umumnya pengangkatan si bungsu dilakukan melalui sebuah operasi kecil yang dapat dilakukan di ruang praktek dokter gigi. Hanya pada kasus-kasus tertentu, misalnya bila si bungsu tertanam sangat dalam di dalam tulang, atau masuk ke dalam ruang sinus, dilakukan di kamar operasi. Bila keempat gigi bungsu (rahang atas dan bawah kiri dan kanan) muncul bersamaan, pengangkatan keempatnya sekaligus di kamar operasi akan memperkecil resiko operasi.
Operasi dimulai dengan menyuntikkan obat bius ke daerah di sekitar si bungsu. Setelah efek pembiusan berjalan, akan dilakukan penyayatan pada gusi di sekitar si bungsu dan dilanjutkan dengan pengambilan jaringan tulang di sekitar si bungsu. Hal ini dilakukan untuk membuang penghalang di sekitar si bungsu sehingga trauma fisik selama pencabutan tidak terlalu besar. Bila si bungsu telah berhasil dikeluarkan, gusi yang terbuka akan dikembalikan ke posisi semula dan dijahit.
Akibat yang biasa muncul setelah operasi pengangkatan si bungsu ini adalah rasa sakit, bengkak, kesulitan membuka mulut hingga 2-3 hari. Kejadian-kejadian di luar itu bisa saja terjadi, misalnya perdarahan yang terus menerus, rasa kebas yang tidak hilang atau luka yang tidak bisa menutup. Tapi hal-hal tersebut jarang muncul dan biasanya ada kondisi individual yang menyebabkan hal-hal luar biasa ini terjadi.
Bruksisme, pencuri di malam hari
Sabtu, 02 Februari 2008
Ditulis oleh Melinda seperti yang dimuat dalam Harian Kompas 1 April 2005
Pernahkah anda mengeluhkan sakit kepala atau telinga ketika bangun tidur dan kemudian rasa sakit ini perlahan-lahan menghilang seiring dengan mengingginya matahari? Kalau pernah, anda boleh mencurigai adanya pencuri yang bekerja pada rongga mulut anda selama anda tidur.
Pencuri itu ada di dalam tubuh anda sendiri, bernama bruksisme. Pencuri ini bekerja perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya anda merasakan gejala yang disebutkan di atas dan gigi anda mengalami kerusakan permanen.
Mengganggu teman tidur
Bruksisme adalah kebiasaan menggertakkan gigi, atau mengatupkan gigi geligi atas dan bawah dengan tekanan yang besar. Munculnya biasa terjadi pada malam hari, pada fase awal tidur. Tetapi ada juga yang mengalaminya pada siang hari. Kapanpun munculnya, kebiasaan itu merupakan kebiasaan yang tidak disadari.
Bruksisme umum terjadi di masyarakat kita. 50% sampai 96% orang dewasa pernah mengalaminya. Umumnya, kebiasaan ini tidak disadari oleh pelakunya, karena pada tingkat ringan kebiasaan ini tidak mengganggunya. Kebiasaan ini tidak mengganggu pelakunya, tapi justru mengganggu teman tidurnya, karena bunyi yang dihasilkan cukup keras. Seseorang baru menyadarinya setelah teman tidurnya memberitahu atau dokter giginya menemukan kelainan-kelainan dalam rongga mulutnya.
Gejala klinis awal berupa retakan pada gigi akibat bruksisme baru muncul setelah bertahun-tahun. Karena itulah sulit untuk memperkirakan, apalagi menghitung jumlah penderita bruksisme.
Gerakan yang merusak
Sampai saat ini, penyebab bruksisme tidak diketahui secara pasti. Diduga penyebab paling umum adalah faktor emosional, seperti stress di siang hari, kecemasan, kemarahan, rasa sakit dan fustrasi. Selain itu, oklusi (cara gigi geligi rahang atas dan bawah mengatup) yang tidak normal dan gigi ompong juga diduga menyebabkan bruksisme. Selain faktor-faktor penyebab di atas, bruksisme akan diperparah jika penderitanya mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.
Ketika seseorang mengunyah makanan, tekanan yang ditimbulkan oleh gesekan gigi-geligi atas dan bawah diserap oleh makanan. Dalam keadaan tidak sadar, gerakan rahang menimbulkan tekanan yang jauh lebih besar daripada ketika mengunyah. Dan seluruh tekanan yang terjadi diserap oleh gigi geligi dan jaringan penyangganya. Tekanan yang terjadi kurang lebih 10 kali tekanan mengunyah normal. Bayangkanlah beban yang ditanggung oleh gigi geligi dan jaringan penyangganya.
Penulis yang bekerja sebagai praktisi pernah menjumpai kasus bruksisme yang sudah berlangsung cukup lama. Seluruh gigi belakang pada penderita bruksisme ini mempunyai permukaan yang datar, sehingga tidak memungkinkan lagi dipakai untuk mengunyah atau menghaluskan makanan.
Tanda lain yang sering dijumpai pada penderita bruksisme adalah terbentuknya cekungan di daerah perbatasan mahkota dan akar gigi. Cekungan ini terjadi karena email di bagian ini tipis, sehingga patah ketika mendapat tekanan berlebihan. Tanda ini sering disalah-tafsirkan sebagai akibat kesalahan dalam menyikat gigi.
Tanda-tanda klinis yang disebutkan di atas biasanya tidak menimbulkan keluhan, kecuali bila gigi menjadi sensitif terhadap dingin, tekanan dan rangsangan lain. Seseorang dengan bruksisme memerlukan waktu bertahun-tahun untuk merasakan gangguan bagi dirinya sendiri. Pada tingkat lebih lanjut, gigi bisa goyang, bahkan lepas dari soketnya.
Selain gejala pada gigi, keluhan yang umum dirasakan adalah rasa sakit dan lemas pada rahang bawah atau wajah ketika bangun tidur. Ada juga yang mengeluhkan rasa sakit kepada atau telinga pada pagi hari. Gejala-gejala ini umumnya hilang seiring dengan berjalannya hari.
Pengobatan
Sampai saat ini belum ada terapi yang pasti untuk mengobati bruksisme, karena penyebabnya juga tidak diketahui dengan pasti. Biasanya dokter gigi akan menganjurkan penggunaan plat pelindung yang digunakan pada malam hari. Plat ini menutupi permukaan kunyah seluruh gigi, untuk mengurangi besarnya tekanan akibat bruksisme terhadap gigi-geligi yang dilindungi. Plat ini tentu saja tidak akan menghilangkan kebiasaan menggertakkan gigi.
Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan ini, mulai dari pengasahan gigi secara selektif, penggunaan obat anti depresi dan suplemen mineral sampai hipnotis. Ada juga alat dapat yang dipakai selama tidur yang berfungsi untuk membuat penderita terbangun ketika gerakan abnormal terjadi. Pilihan terapi yang akan digunakan biasanya disesuaikan dengan dugaan faktor penyebabnya.
Ditulis oleh Melinda seperti yang dimuat dalam Harian Kompas 1 April 2005
Pernahkah anda mengeluhkan sakit kepala atau telinga ketika bangun tidur dan kemudian rasa sakit ini perlahan-lahan menghilang seiring dengan mengingginya matahari? Kalau pernah, anda boleh mencurigai adanya pencuri yang bekerja pada rongga mulut anda selama anda tidur.
Pencuri itu ada di dalam tubuh anda sendiri, bernama bruksisme. Pencuri ini bekerja perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya anda merasakan gejala yang disebutkan di atas dan gigi anda mengalami kerusakan permanen.
Mengganggu teman tidur
Bruksisme adalah kebiasaan menggertakkan gigi, atau mengatupkan gigi geligi atas dan bawah dengan tekanan yang besar. Munculnya biasa terjadi pada malam hari, pada fase awal tidur. Tetapi ada juga yang mengalaminya pada siang hari. Kapanpun munculnya, kebiasaan itu merupakan kebiasaan yang tidak disadari.
Bruksisme umum terjadi di masyarakat kita. 50% sampai 96% orang dewasa pernah mengalaminya. Umumnya, kebiasaan ini tidak disadari oleh pelakunya, karena pada tingkat ringan kebiasaan ini tidak mengganggunya. Kebiasaan ini tidak mengganggu pelakunya, tapi justru mengganggu teman tidurnya, karena bunyi yang dihasilkan cukup keras. Seseorang baru menyadarinya setelah teman tidurnya memberitahu atau dokter giginya menemukan kelainan-kelainan dalam rongga mulutnya.
Gejala klinis awal berupa retakan pada gigi akibat bruksisme baru muncul setelah bertahun-tahun. Karena itulah sulit untuk memperkirakan, apalagi menghitung jumlah penderita bruksisme.
Gerakan yang merusak
Sampai saat ini, penyebab bruksisme tidak diketahui secara pasti. Diduga penyebab paling umum adalah faktor emosional, seperti stress di siang hari, kecemasan, kemarahan, rasa sakit dan fustrasi. Selain itu, oklusi (cara gigi geligi rahang atas dan bawah mengatup) yang tidak normal dan gigi ompong juga diduga menyebabkan bruksisme. Selain faktor-faktor penyebab di atas, bruksisme akan diperparah jika penderitanya mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.
Ketika seseorang mengunyah makanan, tekanan yang ditimbulkan oleh gesekan gigi-geligi atas dan bawah diserap oleh makanan. Dalam keadaan tidak sadar, gerakan rahang menimbulkan tekanan yang jauh lebih besar daripada ketika mengunyah. Dan seluruh tekanan yang terjadi diserap oleh gigi geligi dan jaringan penyangganya. Tekanan yang terjadi kurang lebih 10 kali tekanan mengunyah normal. Bayangkanlah beban yang ditanggung oleh gigi geligi dan jaringan penyangganya.
Penulis yang bekerja sebagai praktisi pernah menjumpai kasus bruksisme yang sudah berlangsung cukup lama. Seluruh gigi belakang pada penderita bruksisme ini mempunyai permukaan yang datar, sehingga tidak memungkinkan lagi dipakai untuk mengunyah atau menghaluskan makanan.
Tanda lain yang sering dijumpai pada penderita bruksisme adalah terbentuknya cekungan di daerah perbatasan mahkota dan akar gigi. Cekungan ini terjadi karena email di bagian ini tipis, sehingga patah ketika mendapat tekanan berlebihan. Tanda ini sering disalah-tafsirkan sebagai akibat kesalahan dalam menyikat gigi.
Tanda-tanda klinis yang disebutkan di atas biasanya tidak menimbulkan keluhan, kecuali bila gigi menjadi sensitif terhadap dingin, tekanan dan rangsangan lain. Seseorang dengan bruksisme memerlukan waktu bertahun-tahun untuk merasakan gangguan bagi dirinya sendiri. Pada tingkat lebih lanjut, gigi bisa goyang, bahkan lepas dari soketnya.
Selain gejala pada gigi, keluhan yang umum dirasakan adalah rasa sakit dan lemas pada rahang bawah atau wajah ketika bangun tidur. Ada juga yang mengeluhkan rasa sakit kepada atau telinga pada pagi hari. Gejala-gejala ini umumnya hilang seiring dengan berjalannya hari.
Pengobatan
Sampai saat ini belum ada terapi yang pasti untuk mengobati bruksisme, karena penyebabnya juga tidak diketahui dengan pasti. Biasanya dokter gigi akan menganjurkan penggunaan plat pelindung yang digunakan pada malam hari. Plat ini menutupi permukaan kunyah seluruh gigi, untuk mengurangi besarnya tekanan akibat bruksisme terhadap gigi-geligi yang dilindungi. Plat ini tentu saja tidak akan menghilangkan kebiasaan menggertakkan gigi.
Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan ini, mulai dari pengasahan gigi secara selektif, penggunaan obat anti depresi dan suplemen mineral sampai hipnotis. Ada juga alat dapat yang dipakai selama tidur yang berfungsi untuk membuat penderita terbangun ketika gerakan abnormal terjadi. Pilihan terapi yang akan digunakan biasanya disesuaikan dengan dugaan faktor penyebabnya.
Tindik lidah, amankan ?
Jumat, 08 Februari 2008
Ditulis oleh Melinda
Belakangan ini muncul trend di kalangan orang muda untuk melakukan tindik pada tubuh selain di telinga. Tindik dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang dulu tidak dianggap lazim, misalnya di cuping hidung, pusar, puting susu, alis, bibir, lidah.
Sebetulnya, tindik di tempat-tempat yang disebutkan di atas bukan merupakan hal baru, karena tindik pada bagian-bagian tubuh tertentu juga dipakai pada beberapa budaya dan ritus agama tertentu. Nenek moyang bangsa Mesir menindik pusar sebagai tanda kebangsawanan, tentara-tentara Romawi memasang cincin pada puting susu sebagai tanda keberanian dan kejantanan, bangsa Maya menindik lidah untuk tujuan spiritual, bangsa Sioux menjadikan tindik pada tubuh sebagai tradisi.
Saat ini ada beberapa suku yang masih melakukan tindik pada tubuh untuk alasan religius, kesukuan, dan pernikahan. Misalnya, orang India Selatan yang menggunakan tindik lidah untuk menciptakan keheningan. Dalam budaya modern, tindik pada tubuh dilakukan sebagai karya seni atau prasyarat untuk mendapat pengakuan dari komunitas tertentu. Beberapa gelintir orang juga melakukan tindik untuk “menikmati” rasa sakit yang dialami selama proses penindikan, juga untuk menambah kenikmatan seksual.
Di antara sekian banyak tindik yang menjadi trend saat ini, tindik pada lidah termasuk yang cukup digemari. Resiko tindik di rongga mulut, terutama pada lidah lebih besar daripada di bagian tubuh lainnya. Banyak resiko yang mungkin terjadi, mulai dari patahnya gigi karena perhiasan yang dipasang, perdarahan yang berlarut-larut, pembengkakan, kerusakan saraf hingga penyebaran infeksi ke tempat lain.
Perhiasan pada lidah dan pengaruhnya di rongga mulut
Bentuk-bentuk perhiasan yang dipasang pada tempat yang telah dilubangi umumnya berupa barbel atau cincin. Benda asing yang berada di dalam rongga mulut akan menyebabkan munculnya gangguan bicara, kesulitan mengunyah dan menelan produksi air liur yang berlebihan, dan kebiasaan bruksisme (menggertakkan gigi tanpa sadar). Selain itu perbenturan antara perhiasan dengan gigi yang terus menerus akan mengakibatkan patahnya gigi. Sedangkan perbenturan dengan jaringan penyanggah gigi akan mengakibatkan kerusakan gusi dan tulang penyanggah gigi.
Lidah banyak mengandung sangat banyak pembuluh darah, sehingga proses menindik akan menyebabkan perdarahan berlarut larut. Bila penindikan dilakukan tanpa memperhatikan sterilisitas alat, akan menyebabkan infeksi yang dengan mudah menyebar ke bagian lain. Pembengkakan lidah yang merupakan reaksi normal setelah proses penindikan akan menjadi berbahaya bila dilakukan secara tidak steril. Pembengkakan lidah yang berlebihan akan mempersempit saluran pernafasan.
Selain pembuluh darah, lidah juga dilalui oleh urat syaraf. Bila penindikan menyebabkan putusnya urat syaraf, lidah akan mengalami kelumpuhan sebagian maupun total.
Bila hygiene mulut tidak diperhatikan, perhiasan dalam mulut akan menjadi tempat yang sangat baik bagi perkembangbiakan bakteri yang mengakibatkan infeksi di gusi dan pipi bagian dalam. Bila ukuran perhiasan tidak cukup besar mengisi lubang tindik, perhiasan bisa lepas dan bisa saja tertelan atau masuk ke saluran pernafasan.
Secara medis, tindakan tindik lidah sangat tidak disarankan. Beberapa fakta di bawah ini menguatkan alasan untuk tidak menindik lidah :
*
Tidak ada tindik lidah yang berlisensi
*
Kebanyakan orang yang menindik bukan ahli medis
*
Tidak ada tenaga medis atau paramedis yang berprofesi sebagai penindik lidah
*
Tidak ada pemeriksaan khusus atau berkala setelah dilakukan tindik lidah
*
Tidak ada peralatan gawat darurat untuk tindik lidah
Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengutuk tindakan tindik lidah atau menakut-nakuti pemakai tindik lidah. Bila tindik lidah tetap menjadi pilihan, segala resiko yang dikemukakan di atas dapat dikurangi dengan memperhatikan hal-hal berikut :
*
Gunakan peralatan yang steril
*
Jaga kebersihan luka bekas penindikan
*
Gunakan perhiasan yang tidak terlalu rumit sehingga mudah dibersihkan
*
Segera berkonsultasi dengan dokter bila luka bekas penindikan atau pembengkakan tidak pulih dalam waktu yang lama
*
Para atlet disarankan untuk melepaskan perhiasannya selama berolahraga
*
Para perokok disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya karena kombinasi tindik lidah dan merokok lebih banyak menimbulkan masalah dalam mulut
*
Hindari minuman keras dan kegiatan oral seks sedikitnya 6 bulan setelah penindikan untuk menghindari risiko kerusakan jaringan dan infeksi
Ditulis oleh Melinda
Belakangan ini muncul trend di kalangan orang muda untuk melakukan tindik pada tubuh selain di telinga. Tindik dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang dulu tidak dianggap lazim, misalnya di cuping hidung, pusar, puting susu, alis, bibir, lidah.
Sebetulnya, tindik di tempat-tempat yang disebutkan di atas bukan merupakan hal baru, karena tindik pada bagian-bagian tubuh tertentu juga dipakai pada beberapa budaya dan ritus agama tertentu. Nenek moyang bangsa Mesir menindik pusar sebagai tanda kebangsawanan, tentara-tentara Romawi memasang cincin pada puting susu sebagai tanda keberanian dan kejantanan, bangsa Maya menindik lidah untuk tujuan spiritual, bangsa Sioux menjadikan tindik pada tubuh sebagai tradisi.
Saat ini ada beberapa suku yang masih melakukan tindik pada tubuh untuk alasan religius, kesukuan, dan pernikahan. Misalnya, orang India Selatan yang menggunakan tindik lidah untuk menciptakan keheningan. Dalam budaya modern, tindik pada tubuh dilakukan sebagai karya seni atau prasyarat untuk mendapat pengakuan dari komunitas tertentu. Beberapa gelintir orang juga melakukan tindik untuk “menikmati” rasa sakit yang dialami selama proses penindikan, juga untuk menambah kenikmatan seksual.
Di antara sekian banyak tindik yang menjadi trend saat ini, tindik pada lidah termasuk yang cukup digemari. Resiko tindik di rongga mulut, terutama pada lidah lebih besar daripada di bagian tubuh lainnya. Banyak resiko yang mungkin terjadi, mulai dari patahnya gigi karena perhiasan yang dipasang, perdarahan yang berlarut-larut, pembengkakan, kerusakan saraf hingga penyebaran infeksi ke tempat lain.
Perhiasan pada lidah dan pengaruhnya di rongga mulut
Bentuk-bentuk perhiasan yang dipasang pada tempat yang telah dilubangi umumnya berupa barbel atau cincin. Benda asing yang berada di dalam rongga mulut akan menyebabkan munculnya gangguan bicara, kesulitan mengunyah dan menelan produksi air liur yang berlebihan, dan kebiasaan bruksisme (menggertakkan gigi tanpa sadar). Selain itu perbenturan antara perhiasan dengan gigi yang terus menerus akan mengakibatkan patahnya gigi. Sedangkan perbenturan dengan jaringan penyanggah gigi akan mengakibatkan kerusakan gusi dan tulang penyanggah gigi.
Lidah banyak mengandung sangat banyak pembuluh darah, sehingga proses menindik akan menyebabkan perdarahan berlarut larut. Bila penindikan dilakukan tanpa memperhatikan sterilisitas alat, akan menyebabkan infeksi yang dengan mudah menyebar ke bagian lain. Pembengkakan lidah yang merupakan reaksi normal setelah proses penindikan akan menjadi berbahaya bila dilakukan secara tidak steril. Pembengkakan lidah yang berlebihan akan mempersempit saluran pernafasan.
Selain pembuluh darah, lidah juga dilalui oleh urat syaraf. Bila penindikan menyebabkan putusnya urat syaraf, lidah akan mengalami kelumpuhan sebagian maupun total.
Bila hygiene mulut tidak diperhatikan, perhiasan dalam mulut akan menjadi tempat yang sangat baik bagi perkembangbiakan bakteri yang mengakibatkan infeksi di gusi dan pipi bagian dalam. Bila ukuran perhiasan tidak cukup besar mengisi lubang tindik, perhiasan bisa lepas dan bisa saja tertelan atau masuk ke saluran pernafasan.
Secara medis, tindakan tindik lidah sangat tidak disarankan. Beberapa fakta di bawah ini menguatkan alasan untuk tidak menindik lidah :
*
Tidak ada tindik lidah yang berlisensi
*
Kebanyakan orang yang menindik bukan ahli medis
*
Tidak ada tenaga medis atau paramedis yang berprofesi sebagai penindik lidah
*
Tidak ada pemeriksaan khusus atau berkala setelah dilakukan tindik lidah
*
Tidak ada peralatan gawat darurat untuk tindik lidah
Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengutuk tindakan tindik lidah atau menakut-nakuti pemakai tindik lidah. Bila tindik lidah tetap menjadi pilihan, segala resiko yang dikemukakan di atas dapat dikurangi dengan memperhatikan hal-hal berikut :
*
Gunakan peralatan yang steril
*
Jaga kebersihan luka bekas penindikan
*
Gunakan perhiasan yang tidak terlalu rumit sehingga mudah dibersihkan
*
Segera berkonsultasi dengan dokter bila luka bekas penindikan atau pembengkakan tidak pulih dalam waktu yang lama
*
Para atlet disarankan untuk melepaskan perhiasannya selama berolahraga
*
Para perokok disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya karena kombinasi tindik lidah dan merokok lebih banyak menimbulkan masalah dalam mulut
*
Hindari minuman keras dan kegiatan oral seks sedikitnya 6 bulan setelah penindikan untuk menghindari risiko kerusakan jaringan dan infeksi
Katanya, kalau sedang demam berdarah tidak boleh menyikat gigi
Jumat, 23 Mei 2008
5 hari di tidur di rumah sakit gara-gara demam berdarah bagiku menjadi pengalaman yang menarik, karena di sana aku mendengar satu lagi mitos tentang pemeliharaan gigi yang disebarkan oleh tenaga paramedis. Saat aku mendengar mitos itu diucapkan, trombositku ada pada level 50an ribu. Salah seorang perawat jaga melarangku menyikat gigi, karena katanya akan menyebabkan perdarahan gusi. Ini adalah mitos yang salah dan dapat dijelaskan mengapa salah.
Gusi yang sehat dalam rongga mulut terlihat berwarna merah muda. Kalau dikeringkan, permukaannya terlihat seperti kulit jeruk, berbintik-bintik. Dan yang pasti, tidak mudah berdarah, apalagi hanya karena bulu sikat gigi. Proses menyikat gigi memberikan efek pemijatan pada gusi, sehingga peredaran darah pada gusi menjadi lancar dan tentu saja akibatnya gusi terpelihara kesehatannya. Selain memijat gusi, penyikatan gigi tentu saja akan mengangkat kotoran, sisa-sisa makanan dan plak yang melekat pada gigi. Gigi dan gusi yang bersih tentunya tidak memungkinkan bakteri penyebab gigi berlubang dan radang gusi hidup.
Kalau gusi dalam keadaan sehat, meskipun menderita demam berdarah, penyikatan gigi tidak akan menyebabkan perdarahan di rongga mulut. Justru bila tidak disikat, sisa-sisa makanan yang menempel di gusi dan gigi akan menjadi sarang yang nyaman bagi bakteri penyebab radang gusi. Akibat selanjutnya adalah gusi mudah berdarah ketika disikat, dan kemungkinan terjadi perdarahan yang sulit dihentikan.
Jadi boleh atau tidak menyikat gigi ketika demam berdarah? Tergantung, kalau gusi sehat, sikat saja. Kalau sudah penuh dengan karang gigi, turuti saja anjuran perawat.
5 hari di tidur di rumah sakit gara-gara demam berdarah bagiku menjadi pengalaman yang menarik, karena di sana aku mendengar satu lagi mitos tentang pemeliharaan gigi yang disebarkan oleh tenaga paramedis. Saat aku mendengar mitos itu diucapkan, trombositku ada pada level 50an ribu. Salah seorang perawat jaga melarangku menyikat gigi, karena katanya akan menyebabkan perdarahan gusi. Ini adalah mitos yang salah dan dapat dijelaskan mengapa salah.
Gusi yang sehat dalam rongga mulut terlihat berwarna merah muda. Kalau dikeringkan, permukaannya terlihat seperti kulit jeruk, berbintik-bintik. Dan yang pasti, tidak mudah berdarah, apalagi hanya karena bulu sikat gigi. Proses menyikat gigi memberikan efek pemijatan pada gusi, sehingga peredaran darah pada gusi menjadi lancar dan tentu saja akibatnya gusi terpelihara kesehatannya. Selain memijat gusi, penyikatan gigi tentu saja akan mengangkat kotoran, sisa-sisa makanan dan plak yang melekat pada gigi. Gigi dan gusi yang bersih tentunya tidak memungkinkan bakteri penyebab gigi berlubang dan radang gusi hidup.
Kalau gusi dalam keadaan sehat, meskipun menderita demam berdarah, penyikatan gigi tidak akan menyebabkan perdarahan di rongga mulut. Justru bila tidak disikat, sisa-sisa makanan yang menempel di gusi dan gigi akan menjadi sarang yang nyaman bagi bakteri penyebab radang gusi. Akibat selanjutnya adalah gusi mudah berdarah ketika disikat, dan kemungkinan terjadi perdarahan yang sulit dihentikan.
Jadi boleh atau tidak menyikat gigi ketika demam berdarah? Tergantung, kalau gusi sehat, sikat saja. Kalau sudah penuh dengan karang gigi, turuti saja anjuran perawat.
Perawatan Kulit Pada Usia 40 Tahunan bag.2
Kondisi kulit saat usia melewati usia 50 tahun pada umum nya mengalami penurunan kualitas seperti sel-sel pigmen kulit akan mulai melebur membentuk area-area gelap pad permukaan kulit yang di sebut sebagai “ age spot “
Ditambah lagi kulit akan kehilangan kekenyalan dan warna cerahnya , lebih kering dan menjadi lebih senditif bahkan mungkin akan mulai allergi terhadap beberapa hal.
Bahkan kulit mejadi lebih tipis dan rapuh sehingga jika terjadi iritasi pada kulit akan membuhtuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh.
Perawatan yang dibutuhkan untuk kondisi kulit seperti ini adalah selain proses pembersihan dan pelembaban kulit , perlu di tambahkan adanya rangkaian system perawatan tambahan yang berfungsi untuk pencerahan dan mengurangi ketidak rataan kulit.
Perawatan kulit dengan menggunakan produk yang mengandung pro-collagen peptides dan konsumsi antioksidan yang tinggi sangat bermanfaat untuk menlindungi dari kerusakan kulit akibat lingkungan mempertahankan kesegaran dan kecerahan kulit.
Produk yang sangat direkomendasikan untuk usia diatas 50 tahun ini adalah produk- poduk perawatan yang dapat membantu meningkatkan elastin dan mempertahankan pecahnya elastin pada kulit. Dengan mempertahkan Elastin ini akan membantu mengencangkan kembali kulit yang kendur terutama di area dagu, mata dan rahang.
Sedangkan permasalahan yang mulai muncul pada usia ini adalah: age spot, bintik hitam timbul, warna kulit tidak rata, kering, kecerahan memudar, pori-pori besar, keriput, dehidrasi, kendur.
Produk Perawatan yang digunakan
Ada 2 jenis metode perawatan :
1. Berdasarkan analisa masalah : NuSkin 180 sistem + NuSkin TruFace Series
2. All In One, Solusi terintegrasi : NuSkin ageLoc ( Recommended)
Untuk hasil maksimal dapat dioptimalkan dengan Galvanic Spa Sistem
NuSkin 180 Sistem
Mengurangi penampilan garis dan keriput, memurnikan tekstur, serta menyeimbangkan warna kulit. Secara klinis akan memberikan efek nyata dalam 1 minggu, Anda akan tampak lebih muda.
Ditambah lagi kulit akan kehilangan kekenyalan dan warna cerahnya , lebih kering dan menjadi lebih senditif bahkan mungkin akan mulai allergi terhadap beberapa hal.
Bahkan kulit mejadi lebih tipis dan rapuh sehingga jika terjadi iritasi pada kulit akan membuhtuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh.
Perawatan yang dibutuhkan untuk kondisi kulit seperti ini adalah selain proses pembersihan dan pelembaban kulit , perlu di tambahkan adanya rangkaian system perawatan tambahan yang berfungsi untuk pencerahan dan mengurangi ketidak rataan kulit.
Perawatan kulit dengan menggunakan produk yang mengandung pro-collagen peptides dan konsumsi antioksidan yang tinggi sangat bermanfaat untuk menlindungi dari kerusakan kulit akibat lingkungan mempertahankan kesegaran dan kecerahan kulit.
Produk yang sangat direkomendasikan untuk usia diatas 50 tahun ini adalah produk- poduk perawatan yang dapat membantu meningkatkan elastin dan mempertahankan pecahnya elastin pada kulit. Dengan mempertahkan Elastin ini akan membantu mengencangkan kembali kulit yang kendur terutama di area dagu, mata dan rahang.
Sedangkan permasalahan yang mulai muncul pada usia ini adalah: age spot, bintik hitam timbul, warna kulit tidak rata, kering, kecerahan memudar, pori-pori besar, keriput, dehidrasi, kendur.
Produk Perawatan yang digunakan
Ada 2 jenis metode perawatan :
1. Berdasarkan analisa masalah : NuSkin 180 sistem + NuSkin TruFace Series
2. All In One, Solusi terintegrasi : NuSkin ageLoc ( Recommended)
Untuk hasil maksimal dapat dioptimalkan dengan Galvanic Spa Sistem
NuSkin 180 Sistem
Mengurangi penampilan garis dan keriput, memurnikan tekstur, serta menyeimbangkan warna kulit. Secara klinis akan memberikan efek nyata dalam 1 minggu, Anda akan tampak lebih muda.
Langganan:
Postingan (Atom)